RSS

Alternatif Itu Bernama Garut

Alternatif Itu Bernama Garut

 

Oleh : Sinta Mahardita

Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Universitas Gadjah Mada

Beberapa waktu lalu, berbagai media ramai memberitakan tentang kenaikan harga cabe rawit. Belum mulai normal, isu kenaikan harga kedelai membuat produsen produk pangan berbasis kedelai kelimpungan. Seperti yang dilansir oleh tempointeraktif.com (14/2) lalu, harga kedelai yang biasanya berkisar Rp 3000-4000 per kilonya kini bisa mencapai 5000-6000 per kilonya1. Hal semacam ini sangat sedikit terekspos, padahal bisa cukup mengganggu bagi stabilitas pangan negeri. Dalam UU No.7 tahun 1996 tentang pangan, pembangunan ketahanan pangan dirumuskan sebagai usaha mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rumah tangga, dalam jumlah yang cukup, mutu dan gizi yang layak, aman dikonsumsi, merata, serta terjangkau oleh setiap individu2.

Selain masalah kenaikan harga kedelai, tepung terigu yang masih menjadi primadona di industri pembuatan roti pun melonjak harganya. Karena kandungan glutennya yang sangat langka, keberadaan tepung terigu belum bisa tergantikan. Namun upaya substitusi dengan berbagai sumber pangan lokal kini mulai ramai digalakkan.

Garut (Maranta arundinaceae L) adalah salah satu sumber bahan pangan lokal yang kandungan indeks glikemik-nya yang sangat rendah, yaitu 14, jika dibandingkan dengan glukosa yang ber-IG 1003. Selain itu, garut dapat mensubstitusi keberadaan tepung terigu dalam kadar tertentu dan cocok untuk penderita diabetes mellitus. Kandungan serat pangan yang dimiliki garut juga menjadi nilai positif. Serat pangan, baik larut air maupun tidak larut air, memiliki peran penting dalam mekanisme pencernaan di dalam tubuh manusia. Serat pangan merupakan substrat yang baik bagi pertumbuhan mikroflora sehingga massa bakteri di kolon bertambah dan sistem pencernaan menjadi lebih lancar (feses mudah keluar)4.

Substitusi garut yang ditepungkan dalam komposisinya pada pembuatan roti tawar bisa dilakukan hingga kadar 10%5. Ketampakan pada roti tersebut tidak seputih roti tawar seperti biasa, namun kemanfaatannya ditinjau dari kandungan serat pangannya jelas meningkat. Selain murah, upaya substitusi tepung gandum dengan tepung garut sebanyak 10% bagian roti bisa mengurangi lonjakan kebutuhan gandum nasional. Selain itu, ada pula emping garut sebagai alternatif lain pengolahan pangan hingga dapat menjadi produk bernilai jual tinggi, sekaligus alternatif bagi penderita asam urat agar tetap dapat mengonsumsi emping2. Dari sini kita bisa sama-sama mengambil sikap bahwa tidak hanya penelitian saja yang melulu perlu terus dieksplorasi, namun aksi nyatanya untuk ketahanan pangan bangsa yang juga harus ditindaklanjuti.

Sumber :

1.      Ishomuddin, dalam artikel “Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Kurangi Ukuran” (14 Februari 2011). Diakses melalui http://www.tempointeraktif.com (14/2) pada 15 Februari 2011.

2.      Djaafar, Titiek F., Sarjiman, dan Pustika, Arlyna B. 2008. Pengembangan Budidaya Tanaman Garut dan Teknologi Pengolahannya untuk mendukung Ketahanan Pangan. Jurnal Litbang Pertanian 2010. Yogyakarta : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

3.      Marsono, Y.2002. Indek Glisemik Umbi-umbian. Agritech 22 (1):13-16.

4. Marsono, Y. 1995. Fermentation of Dietary Fibre in thew Human Large Intestine:A review. Indonesian Food and Nutr. Progress.2: 48-53.

5.      Yovita Roessalina Wijayanti. 2007. Substitusi Tepung Gandum (Triticum aestivum) dengan Tepung Garut (Maranta arundinaceae L) dalam Pembuatan Roti Tawar. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: